SurgaQQ Situs Agen Poker Domino Online Terpercaya Indonesia

SurgaQQ Situs Agen Poker Domino Online Terpercaya Indonesia
agen poker, agen domino, dominoQQ, domino99

Suara hati salah satu rakyat indonesia "Mengapa Aku Membela Ahok Gubernur DKI"

Suara hati salah satu rakyat indonesia "Mengapa Aku Membela Ahok Gubernur DKI"

SURGAQQ-Mengapa abang terus membela Ahok padahal dia sudah menyakiti kami umat muslim? Abang membelanya karena seiman bukan? Jadi belanya mati matian karena seagama tidak peduli atas apa yang telah diperbuatnya pada kami.

Lama saya renungkan pesan inbox dari seorang kawan yang kebetulan dulu kami berada pada garis seperjuangan. Apa yang sudah diperbuat Ahok? Apakah aku membelanya karena Ahok seiman denganku?

Aku membongkar kembali kepingan kepingan mengapa aku membela Ahok. Pembongkaran kepingan kepingan dari gudang memori keterlibatanku saat aku ikut menyuarakan Ahok sejak 2012 lalu.

Dalam pembongkaran kepingan kepingan itu aku menemukan banyak juga tulisan tulisan berseberangan dengan kebijakannya. Banyak juga kritikan keras aku kepada Ahok. Kemarahanku pada Ahok.

Kepingan kepingan itu membundel jadi satu kesatuan yang menjelaskan bahwa Ahok bukanlah manusia sempurna di mataku. Ahok bukanlah malaikat yang tidak punya salah di mataku. Sekaligus mau katakan aku bukanlah pendukung butanya. Aku bebas mau menulis apa saja tentang Ahok. Ahok sama seperti kita, manusia biasa. Manusia yang punya gelora di sisa hidupnya bisa manfaat bagi banyak orang.

Pertanyaan stigmatisasi bahwa orang seiman pasti membela yang seiman ini mungkin berlaku pada orang lain. Terus terang aku berdiri membela Ahok karena akal sehat dan atas nilai nilai yang kuyakini.

Memilih karena unsur satu agama, tidak masuk kriteriaku. Agama apapun yang dianutnya selagi kebijakannya senafas dengan pembelaannya pada publik pasti aku dukung.

Apa yang sudah diperbuat Ahok itulah yang membikin aku membelanya. Apa itu?

Tahun 1980an, saat masih kelas 2 SD di Medan, kehidupan keluargaku berat sekali. Gaji pensiunan polisi ayahku tidak cukup untuk menghidupi kami sembilan bersaudara. Kemiskinan mendera begitu dalam. Gaji ayahku yang tak seberapa itu hanya cukup untuk setengah bulan. Sisa setengah bulan lagi gak tahu harus mencari darimana.

Suatu hari, beras untuk dimasak habis. Ayam peliharaan yang biasanya jadi penyelamat mati mendadak semuanya. Kena flu ayam. Puluhan ekor mati seketika.

Satu satunya jalan keluar adalah mencari utangan. Wajah mamak tampak semakin lama semakin keriput. Beban begitu berat terlihat diwajahnya. Apalagi melihat tidak ada lagi beras untuk dimasak.

Aku mengekorinya dari belakang ketika mamak melangkah pergi ke warung kelontong sebelah, tidak jauh dari rumah. Mamak tidak tahu aku mengekorinya. Aku menjaga jarak.

Aku tahu bakal diusirnya kalo mengikutinya. Layaknya anak kecil, aku ingin nodong mamak agar dibelikan permen karet saat tiba di warung. Begitu akalku saat itu.

"Maaf bu...kami gak bisa kasih utang lagi", ujar Ibu penjual kelontong.

"Tolonglah bu..kali ini saja..anak anakku belum makan ", pinta Mamak memelas.

"Maaf ya bu..utangan kemarin saja belum dibayar. Gak bisa bu", balas Ibu penjual kedai ketus.

Lengan daster mamak kulihat dilapkan ke pelupuk matanya. Mamakku menangis. Air matanya jatuh. Mamak balik badan tanpa berkata apapun. Aku terdiam.

Mulutku terkunci untuk meminta permen karet merk buum buum. Permen karet seharga dua puluh lima perak tiga buah. Permen karet yang akan ku kunyah sebiji sampe tidur.

"Ngapain kau di sini nak, ayo pulang", tegas mamak karena terkejut melihatku tiba tiba sudah berdiri dibelakangnya. Matanya memerah. Sambil mengelap ingusnya yang keluar, kami pulang. Sepanjang jalan aku melihat mamak diam sambil berpikir kemana lagi cari utangan.

Peristiwa itu membekas dibenakku. Kemiskinan benar benar mencampakkan hidup kami dari martabat. Kemiskinan memukul kami kedalam penderitaan. Getir dan kelam.

Beberapa hari berikutnya, hidupku berubah. Berubah segalanya. Aku yang masih kecil jadi tahu bahwa tanggal 20an setiap bulan beras dirumah akan habis. Mamak pasti cari utangan baru.

Esoknya aku memutuskan cari duit. Aku harus bantu mamak. Tapi bagaimana caranya cari duit untuk anak sekecilku? Diam diam sepulang sekolah, aku menjadi pemulung.

Setiap tong sampah kompleks perumahan China tidak jauh dari rumahku tidak lepas dari buruanku. Apa saja yang bernilai ku ambil. Plastik, sandal bekas, kaleng, botol, besi perabotan atau apa saja aku ambil.

Saat pagi pergi sekolah yang berjarak dua kilometer melewati perumahan gedongan China, aku menandai setiap tong sampah yang ada barang bernilai. Pulangnya tinggal pungut. Begitu setiap hari.

Dan bila sudah cukup banyak barang berharga itu terkumpul, pengepul akan datang. Ditimbang, lalu dibayar. Orang Medan menyebut pemulung goni botot.

Betapa senangnya hatiku saat uang penjualan kuberikan kepada mamak. Sebagian aku tabung buat beli sepeda BMX. Aku ingin sekali punya sepeda BMX bekas. Keren kali kalau bisa naik sepeda BMX seperti kawan kawanku.

Menjadi goni botot membuatku harus pandai mensiasati diri. Maklum pekerjaan ini kulakukan sampai duduk kelas 2 SMP. Kebetulan sekolah SMP berada dekat rumahku. Hanya sepelemparan batu.

Bayangkan gimana rasanya saat memulung berpapasan dengan guru dan teman temanku. Aduhhh...malunya minta ampun. Tapi apalah mau dibilang, hidup must go on. Orang boleh bilang apa saja, tapi yang jalani hidup tetap kita sendiri.

Gak ada orang mau kasih beras gratis. Kau harus bekerja meski hidungmu mencium bau busuk dan tanganmu mengorek ngorek tong sampah.

Kemiskinan mengajar begitu banyak hal. Kemiskinan membuat hidup terasa gelap dan perih. Menderita sekali. Makan tanpa lauk itu sudah syukur. Kadang makan tidak menentu. Siang makan nasi pake garam, malam tinggal kerak nasi saja. Mamak adalah orang terakhir yang makan kerak nasi setelah kami anak anaknya kenyang.

Aku masih ingat pesan mamak saat matanya terkantuk kantuk sambil menjahit baju pesanan Mak Acim tetangga rumah. "Orang miskin itu ada dua penyebabnya. Satu karena kau malas. Dua, karena kehidupanmu dirampas penguasa". Pesan itu terus terpatri kuat dibenakku hingga kini.

Mamak bekerja menjahit 20 jam sehari. Setiap selesai jahitan pesanan baju dari pelanggannya, aku kadang diminta mengantar ke rumah pelanggan. Ongkos jahitnya berkisar Rp. 15.000,-.

Kau miskin karena kehidupanmu dirampas penguasa. Pesan kuat mamak ini perlahan membentuk pikiranku. Betapa kaya negeriku, tapi mengapa rakyatnya miskin? Mengapa kami menderita sementara penguasa hidup bermewah mewah?

Beberapa waktu lalu aku naik Kopaja dari Terminal Kampung Rambutan menuju Cililitan. Di dalam bus ada pengamen pria naik kedalam bus. Wajahnya murung, tubuhnya dekil, bajunya lusuh, serasi dengan gitar kecil tua miliknya.

Sebagai imbalan atas polusi suara yang menjengkelkan itu aku memberikan sedikit uang. Kasihan saja, bukan karena apresiasi atas suara tidak merdunya.

Lalu dia turun, berpindah ke bus lain. Begitulah setiap hari. Lompat dari pintu ke pintu menawarkan suara pemberian Tuhan itu. Banyak anak anak remaja seperti itu di Jakarta. Ada rasa iba melihat mereka. Tapi siapa peduli???

Baru baru ini, Ahok membuat kebijakan mempekerjakan anak anak punk, para pengamen sebagai pekerja lepas Pemprov DKI. Ahok membuat terobosan brilyan. Terobosan cemerlang itu benar benar menolong ribuan anakr anak yang tidak punya masa depan. Anak anak yang tidak beruntung.

Ahok melihat anak bangsa yang kurang beruntung ini bukan sebagai sampah masyarakat. Bukan sebagai musuh pemerintah kota, melainkan sebagai anak bangsa yang harus di tolong kemanusiaannya. Manusia yang harus diselamatkan derajat martabat kemanusiaannya.

Begitu juga dengan keberpihakan Ahok yang menaikkan kesejahteraan para petugas kebersihan. Kita tahu bagaimana nasib para petugas kebersihan ini sebelumnya yang diperas keringatnya. Gaji mereka dipotong oleh mafia busuk aparat Pemprov.

Kini ribuan petugas oranye bahagia bisa menghidupi keluarganya dengan kecukupan. Tidak ada lagi terdengar keluh kesah penderitaan mereka. Ujungnya mereka bekerja keras membersihkan sungai sungai dan jalanan Jakarta.

Kita mungkin hanya mampu memberi uang receh saat melihat para pengamen mencari uang untuk sekedar bertahan hidup. Kita mungkin hanya bisa mendesah saat melihat pemulung atau orang miskin terlunta lunta. Setelah mendesah, kita sibuk dengan urusan keluarga kita sendiri.

Kita kerapkali memalingkan muka atas keberadaan mereka para pengemis, tunawisma, gelandangan, anak punk dlsb. Padahal, sejatinya negara wajib hadir bertanggung jawab memelihara mereka. Itu tugas negara.

Nah, intinya mengapa aku mau berjibaku mendukung Ahok karena dengan memihak Ahok berarti aku memihak kaum lemah dan kaum yang terpinggirkan.

Berjuang untuk Ahok berarti aku berjuang untuk kebaikan dan keadilan bagi semua warga yang tertindas.

Membela Ahok berarti aku membela kemajuan Ibu Kota agar sejajar dengan kota besar dunia lainnya.

Berdiri bersama Ahok berarti aku berdiri mempertahankan uang pajak rakyat DKI dari begal perampok APBD.

Pada akhirnya, semua yang aku perjuangkan bukan untuk Ahok, melainkan wujud caraku menolong orang miskin. Menolong orang terpinggirkan. Menolong kemanusiaan mereka yang selama ini terampas oleh pejabat munafik. Pejabat yang fasih bicara ayat ayat suci tapi sejatinya hatinya sedang berencana merampas kehidupan rakyatnya. Melahap uang dan kekayaan milik masa depan anak anak.

Aku percaya membela Ahok adalah wujud ekspresi imanku kepada perintah Tuhan Yang Maha Adil. Di rumah gubuk si miskinlah Tuhan bersemayam. Pemimpin yang berpihak pada rakyat berarti ada suara Tuhan di sana.

Kemiskinan yang pernah aku lalui begitu perih dan sakit. Aku miskin bukan karena malas. Tapi karena penguasa merampas milikku. Hak milik aku sebagai anak negeri pemilik waris kekayaan negeri ini.

Atas semua pengertian dan alasan itu, aku ikhlas bertarung dengan segenap hati, dengan segenap tenaga, dengan segenap akal budi untuk memenangkan Ahok meski apapun yang terjadi.

Koh Ahok..ijinkan ku angkat segelas air putih untukmu. Air putih agar keringatmu tidak mengering karena beratnya tekanan yang kau hadapi.
Tetap tegar dan jangan pernah menyerah.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Suara hati salah satu rakyat indonesia "Mengapa Aku Membela Ahok Gubernur DKI""

Posting Komentar